Diduga Terlibat Penipuan dan Pemalsuan

Korban penipuan Rulianto Hendrix Wicaksono didampingi penasehat hukumnya Nidya Verawati Sondang Tambunan, SH

Korban penipuan Rulianto Hendrix Wicaksono didampingi penasehat hukumnya Nidya Verawati Sondang Tambunan, SH

Magetan, Pro Rakyat

Notaris dan PPAT Widodo Trikusumanto,SH.MH terancam berurusan dengan Penyidik jajaran Polda Jatim. Pasalnya, Notaris dan PPAT Widodo Trikusumanto,SH.MH diduga terlibat penipuan dan membuat keterangan palsu bersama Hadi Sutrisno seorang pengusaha tahu warga desa Belotan Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.

Korban penipuan Rulianto Hendrix Wicaksono warga Desa Madigondo RT/RW.019/RW.002, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan didampingi penasehat hukumnya Nidya Verawati Sondang Tambunan, SH melaporkan Notaris Widodo Trikusumanto,SH.MH dan Hadi Sutrisno di Polda Jatim sesuai dengan bukti Laporan Polisi Nomor : TBL/179/II/UM/JATIM tanggal 12 Februari 2018.

Notaris dan PPAT Widodo Trikusumanto,SH.MH dan Hadi Sutrisno diduga telah melakukan Tindak Pidana Penipuan dan Penggelapan dan atau memalsukan surat dan atau memberi keterangan palsu dalam akta otentik sebagaimana dimaksud dalam pasal 378 dan atau 372 dan atau 263 dan atau 266 KUHP.

Rulianto didampingi Enam Pengacara dari Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Bantuan Hukum Komunitas Rakyat Anti Korupsi (DPP LBH KORAK) kepada wartawan menyampaikan, dikarena perbuatan Notaris dan PPAT Widodo Trikusumanto,SH.MH mengakibatkan Sertifikat Hak Milik (SHM) No.1057 dan Surat Ukur No.193/Madigondo/2009 tanggal 30 Desember 2009 atas nama neneknya Suhartikah beralih menjadi atas nama Hadi Sutrisno.

“Nenek saya dan saya tidak pernah tanda-tangan Akta Jual Beli (AJB) kepada Hadi Sutrisno. Tapi kok tiba pihak Bank Syariah Magetan mau menyita rumah nenek saya,” kata Korban penipuan Rulianto Hendrix Wicaksono didampingi kuasa hukumnya Nidya Verawati Sondang Tambunan,SH, Ratno Tismoyo,SH, Soedarmanto Boedi Prasetyo,SH, Felix Reza Taha,SH, Rahardian Budi Prasodjo,SH dan Anton Hery Wibawa, SH kepada wartawan Senin (12/2).

Lebih, lanjut Ruli menerangkan, bahwa dirinya pernah dijanjikan oleh Hadi Sutrisno untuk membantu pinjaman dari Bank sebesar Rp.150 juta. Namun, Ruli tidak pernah menerima uang seperti yang dijanjikan Hadi Sutrisno.

“Dari petugas Bank BRI Syariah saya diberitahu pak Hadi Sutrisno pinjam uang sebesar Rp.450 juta. Jaminannya sertifikat nenek saya yang telah dibalik nama menjadi nama Hadi Sutrisno,” ungkap Ruli.

Kuasa Hukum korban, Nidya Verawati Sondang Tambunan, SH menambahkan, ada kelalaian Notaris dalam pembuatan AJB antara Hadi Sutrisno dengan Suhartikah tersebut. Semestinya, saat menandatangani AJB para pihak wajib hadir dikantor Notaris dan PPAT Widodo Trikusumanto,SH.MH. Terlebih, bila sang suami telah meninggal, Notaris wajib meminta Surat Keterangan Waris atau Putuasan Waris dari Pengadilan Agama.

“Lagian, jual beli rumah kok harganya hanya Rp.12 Juta. Apa itu Omah Doro (Rumah Merpati;red) ta.??,” kata Nidya Verawati Sondang Tambunan, SH.

“Apalagi, Suhartikah tinggalnya di Jakarta,” tambahnya.

Terkait laporan ini, Notaris dan PPAT Widodo Trikusumanto,SH.MH dan Hadi Sutrisno belum dapat dikonfrimasi. (tim)