IMG-20180212-WA0046

Hakim Praperadilan,Dwi Purwadi, SH,MH saat membacakan amar putusan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (12/2/2018).

Surabaya, Pro Rakyat

Persidangan praperadilan yang dimohonkan Gunawan Angkawidjaja sebagai tersangka kasus pemalsuan akte otentik dalam RUPS Luar Biasa PT Blauran Cahaya Mulia (BCM) memasuki babak akhir.

Hakim tunggal praperadilan, Dwi Purwadi,SH,MH., mengabulkan permohonan praperadilan yang diajukan Gunawan Angkawidjaja dan menyatakan penetapan tersangka oleh penyidik Polda Jatim prematur dan tidak cukup bukti.

Hakim Dwi Purwadi juga menilai laporan Trisulawati Yusuf alias Chin Chin (istri Gunawan) ke Polda Jatim dinyatakan tidak sah. Selain itu RUPS Luar Biasa PT BCM telah sesuai dengan Undang-Undang Perseroan Terbatas (PT) dan tidak ditemukan adanya pemberian keterangan palsu dalam akte otentik hasil RUPS tersebut.

“Mengabulkan permohonan pemohon dan menyatakan penetapan tersangka prematur dan kurang cukup bukti,”kata Hakim Dwi Purwadi saat membacakan amar putusannya diruang sidang garuda Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (12/2/2018).

Menanggapi putusan hakim tersebut, Ketua Tim Bidkum Polda Jatim, AKBP Dr Adang Oktori,SH,MH menilai putusan Hakim Dwi Purwadi telah menyinggung pokok perkara. “Hakim justru tidak mempertimbangkan sah atau tidaknya penetapan tersangkanya,”ujar Adang saat dikonfirmasi usai persidangan.

Tak hanya itu, Adang pun mengaku akan melakukan upaya hukum lagi atas diterimanya permohonan praperadilan Gunawan Angkawidjaja. “Kami akan buka sprindik lagi,”sambung Adang.

Seperti diketahui, Persoalan ini mencuat setelah Chin Chin melaporkan Gunawan berdasarkan LPB/101/I/2017/UM/SPKT POLDA JATIM. Dalam laporan itu, Chin Chin juga melaporkan enam orang yang diduga terlibat dalam konspirasi tindak pidana memasukkan dan menggunakan keterangan palsu dalam akta otentik, sesuai pasal 266 ayat 1 jo 266 ayat 2 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 7 tahun penjara.

Laporan itu berawal digelarnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 1 September 2016. (Nur/Kas)