20170923_122156Surabaya,Pro Rakyat

Tiga laporan Ponggowo Santoso ke polda sampai sekarang belum ada kepastian serta belum ada yang di jadikan tersangka. terkait ketiga laporan nya  Ponggowo Santoso akan mengadu ke mabes polri. antara lain bukti laporan bernomor LPB/1068/IX/2016/UM/JATIM, LPB/1115/IX/2016/UM/JATIM dan LPB/302/III/2017/UM/JATIM. hingga September 2017 ini, dirinya belum mengetahui secara jelas posisi status laporannya tersebut, hingga berjalan hampir setahun dan belum ada yang dijadikan tersangka,”ujar nya, sabtu (23/9/2017).

Dalam laporan polisi bernomor LPB/1068/IX/2016/UM/JATIM, Ponggowo melaporkan dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan yang dilakukan terlapor Tjahjo Widjojo, oleh Komisaris Utama  PT Surya Graha Semesta pada 13 September 2016 lalu.

Menurut Ponggowo Santoso kasus ini berawal saat bulan Pebruari 2010, ketika Tjahjo Wijoyo merayu mengajak kerja sama yang bergerak dibidang produksi aspal. serta Ponggowo diiming-imingi jabatan sebagai komisaris pada PT Surya Graha Semesta dan dijanjikan keuntungan sebesar 48 persen dari laba yang didapat PT Surya Graha Semesta. Tertariklah tawaran Tjahjo Wijoyo ini akhirnya Ponggowo menyerahkan sebanyak 28 sertifikat tanah untuk modal awal serta uang 2.4 milyard.

Seiring berjalan waktu, upaya Ponggowo meminta laporan neraca PT Surya Graha Semesta selalu mendapatkan kendala. bahkan Permintaan Ponggowo tersebut tidak pernah direspon oleh Tjahjo Wijoyo maupun direksi PT Surya Graha Semesta.
“Pengangkatan saya sebagai komisaris dibuat didepan notaris Isy Karimah Syakir. Setelah itu tidak pernah ada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Setiap kali saya menanyakan neraca, selalu tidak dijawab dan tidak ada penjelasan yang jelas,” ujar Ponggowo.

Mendapati itikat yang mencurigakan tersebut, akhirnya pada 10 Oktober 2013, Ponggowo mengajukan surat pengunduran dirinya sebagai komisaris. Sejalan dengan itu, ia pun akhirnya melaporkan Tjahjo Wijoyo ke polda jatim atas dugaan tindak pidana seperti yang diatur dalam pasal 372 dan 378 KUHP.

Sedangkan, ia juga melaporkan lagi Tjahjo Wijoyo seperti yang tertuang dalam LPB/1115/IX/2016/UM/JATIM. “Saya juga melaporkan Tjahjo atas tindak pidana penggelapan delapan sertifikat atas nama saya. Laporan itupun juga belum jelas statusnya,” beber Ponggowo.

Masih Ponggowo, kasus ini berawal dari Juni 2012, saat dirinya meminta tolong Tjahjo Wijoyo untuk menjualkan aset tanah miliknya. Ponggowo menyerahkan delapan sertifikat tanah kepada Tjahjo Wijoyo saat itu. Namun, oleh Tjahjo Wijoyo kedelapan sertifikat tersebut malah digadaikan kepada seseorang yang bernama Probo tanpa sepengetahuan Ponggowo sebagai pemilik 8 sertifikat itu. Penyidik menerapkan pasal 372 dan 55 KUHP atas laporan ini.

“Hingga saat ini, saya pun tidak mendapatkan sepeserpun hasil dari transaksi kedelapan sertifikat tersebut. Atas perbuatan Tjahjo Wijoyo tersebut, saya mengalami kerugian sekitar Rp 2 miliar,” tambah Ponggowo.

Lalu, yang ketiga, pada laporan bernomor LPB/302/III/2017/UM/JATIM, Ponggowo melaporkan dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan yang dilakukan Tjahjo Widjojo. Kali ini, Tjahjo Wijoyo dilaporkan sebagai kapasitasnya sebagai Komisaris Utama PT Surya Marga Utama (SMU). Laporan ini dilakukan Ponggowo pada 9 Maret 2017.

Menurut Ponggowo, kasus ini berawal pada tahun 2009, ia diajak oleh Tjahjo Wijoyo bekerjasama bisnis dengan iming-iming dijadikan komisaris PT Surya Marga Utama (SMU). “Tjahjo itu sebenarnya teman saya, awalnya saya sangat percaya kepada Tjahyo, hingga kerjasama bisnis yang ditawarkannya pun saya tidak pernah menolak bahkan tidak pernah menaruh curiga sedikit pun, Namun belakangan saya paham, kalau saya jadi korban,” ujarnya.

Atas tawaran kerjasama ini, Ponggowo mengklaim dirinya mengalami kerugian total sekitar Rp 6 miliar. “Total Rp 6 miliar tersebut merupahan saham yang saya setorkan dari rincian sebanyak 8 sertifikat tanah, 1 rumah senilai sekitar Rp 2 miliar dan setoran uang tunai senilai Rp 2,04 miliar,” ujarnya.

Sama persisnya dengan tawaran kerjasama antara dirinya dengan PT Suya Graha Semesta, pada kerjasama kali inipun, Ponggowo mengaku belum mendapatkan  hasil sepeserpun keuntungan dari bisnis yang dijalankan PT SMU. “ padahal saya dijanjikan pembagian 48 persen dari nilai keuntungan yang didapat. Bahkan infonya, hingga saat inipun PT SMU masih berproduksi aspal dan masih berjalan,” tambah Ponggowo.

Atas ketidakjelasan terkait tiga laporan tersebut, Ponggowo meminta pihak kepolisian dapat bekerja secara profesional. Iapun mempertanyakan kapasitas Tjahjo Widjojo, mengapa hingga saat ini masih saja bisa lolos dari jerat hukum. “Padahal Bukti-bukti yang mengarah ke perkara penipuan dan penggelapan sudah cukup kuat yang saya serahkan semua ke penyidik,” ujarnya. (NUR).