tim_shm

Tim ITS Surabaya penemu SHM yang berlaga di Pimnas (8-11 Agustus 2016) di ITB Bogor, meraih medali emas dan perak.

SURABAYA, Pro Rakyat –

Serangan jantung adalah pembunuh nomor satu di dunia. Risiko serangan jantung memang dapat diketahui melalui serangkaian pemeriksaan oleh dokter, namun kebanyakan orang enggan melakoninya.

Adalah Theo Wiranadi Hendrata. Seorang mahasiswa jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, beserta ketiga rekannya menciptakan Smart Heart Monitor (SHM). Yakni sebuah alat untuk mendeteksi serangan jantung secara real-time, serta dilaporkan pada penggunanya melalui aplikasi android.

Karya inovatif yang bertajuk Smart Heart Monitor: Electrocardiogram Portabel Berbasis Raspberry Pi yang Terintegrasi Android sebagai Pendeteksi Kelelahan dan Pencegah Serangan Jantung tersebut, berhasil meraih medali emas dan perak di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 29 di Institut Pertanian Bogor (IPB), 8 – 11 Agustus lalu.

Diungkapkan Theo, selama ini sudah ada alat portabel yang berfungsi untuk memonitor sinyal jantung, namun hanya sebatas pada merekamnya saja. “Kemudian rekaman itu diberikan kepada dokter untuk dianalisa lebih lanjut,” tandasnya.

Hal tersebut dirasakan kurang efektif karena indikasi serangan jantung tidak dapat dideteksi secara langsung. Karena itu diciptakan SHM. Desain SHM yang portable memungkinkan alat ini dapat memantau aktivitas jantung penggunanya setiap saat. “Artinya, ketika ada yang tidak beres dengan irama sinyal jantung, alat ini akan segera memberikan peringatan kepada penggunanya melalui aplikasi android,” ujarnya.

alat_shm2

SHM adalah alat yang mampu mendeteksi kelelahan dan serangan jantung, hasil temuan mahasiswa ITS Surabaya.

Dalam bahasa yang sederhana, SHM bekerja dengan cara menangkap sinyal jantung melalui tiga buah elektroda yang ditempelkan pada bagian dada. Kemudian sinyal tersebut akan diproses dan ditampilkan pada layar dalam bentuk gelombang.

“Apabila dijumpai indikasi serangan jantung dari tampilan gelombang ini, SHM akan segera mengirim peringatan pada penggunanya,” terangnya.

Selain itu, lanjut Theo, jantung setiap orang memiliki batas maksimal yang berbeda dalam bekerja, yang secara umum dipengaruhi oleh umur mereka. Karena itu dibutuhkan semacam peringatan untuk membatasi aktivitas seseorang agar tidak sampai berlebihan, guna menghindari risiko serangan jantung.

Peringatan yang dimaksud akan diberikan apabila aktivitas jantung pengguna telah melebihi angka 80 persen dari batas maksimalnya.

“Kalau sudah melebihi 80 persen batas maksimalnya, pengguna harus segera beristirahat,” ujarnya.

Theo sangat menyayangkan sikap kebanyakan orang cenderung mengabaikan risiko serangan jantung. Padahal gejala terhadap penyakit ini sebenarnya dapat dideteksi dengan banyak cara, termasuk alat ini.

“Seperti berita kematian artis Mike Mohede yang banyak diberitakan di sosial media. Sebenarnya gejala itu sudah dirasakan oleh Mike, yaitu berupa nyeri di bagian dada, namun ia justru mengabaikannya,” cerita Theo.

Dengan adanya alat ini, Theo berharap agar pengguna dapat lebih waspada dengan kondisi jantungnya. “Sehingga di masa depan, angka kematian karena serangan jantung dapat lebih ditekan,” pungkasnya.

Penulis: Agunk – editor: edbrint