Ardian: Jika ada oknum sipir yang ‘bermain’ akan kami tindak tegas

medaeng

Dua unit bis milik Kejari Surabaya saat hendak mengirim tahanan untuk mengikuti sidang ke Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (15/8/2016).

SURABAYA, Pro Rakyat –

Berawal dari penangkapan M. Tolib (24) warga Sidotopo Sekolahan gang 7 Surabaya oleh Unit Pemberantasan BNNP Jatim, terungkap bahwa ia adalah seorang kurir yang dikendalikan oleh Sinyo, yang tidak lain adalah tahanan kasus narkoba di Rutan Klas I Medaeng Surabaya.

Melalui Kasat Keamanan Rutan, Ardian Nova AMd IP SSos MSi, membenarkan informasi tersebut. Pernyataan Ardian mewakili Kepala Rutan Klas I Medaeng Surabaya yang tidak berada di tempat saat tim Pro Rakyat mencoba mengkonfirmasi berita tersebut. Namun, pihaknya masih menunggu pengembangan dari BNN Provinsi Jawa Timur.

“Setelah mendapat kabar tersebut dari pihak BNNP Jatim, kami langsung melakukan kroscek dan sidak, sehingga yang bersangkutan Sinyo sudah kami amankan beserta barang bukti handphone,” ujar pria yang baru dua bulan tersebut mengemban tugas di Rutan Klas I Medaeng Surabaya, kepada prorakyat.co.id, Senin (15/8/2016).

Terkait kasus beredar bebasnya alat komunikasi di dalam Rutan Medaeng, Ardian masih akan mendalami hal tersebut. Menurutnya ada kemungkinan hal itu dilakukan oleh oknum sipir, atau juga dari pihak pengunjung yang sengaja menyembunyikan alat komunikasi tersebut ke dalam Rutan. “Mungkin itu luput dari pengawasan pihak keamanan,” tegasnya.

“Kami akui bahwa itu adalah kesalahan atas ketidak sempurnaan manusia, namun jika memang terbukti ada pihak dalam yang bermain maka akan kami lakukan tindakan tegas,” imbuh pria yang pernah bertugas di rutan Salemba rersebut.

Ardian juga menyayangkan kejadian yang membuat institusinya tergelitik ini. Karena Sinyo diduga memiliki kurir narkoba yang tidak hanya satu. “Dan itu dikendalikan melalui alat telekomunikasi di dalam rutan,” cetusnya.

Ardian menegaskan, pihaknya akan melakukan tindakan tegas pada oknum sipir jika terbukti memfasilitasi beredarnya alat komunikasi di dalam Rutan. “Langkah tegas itu untuk membersihkan institusinya dari kejadian semacam ini, agar tidak terulang kembali,” urainya.

Ditanya mengenai kenapa alat komunikasi bisa masuk ke dalam rutan? Ardian mengakui jika kesulitan memonitor semua tahanan yang berada dalam rutan. “Jumlah tahanan yang ada itu sudah di luar batas ideal,” tandasnya.

Menurut data, lanjutnya, idealnya Rutan dihuni 750 orang tahanan, sedang sampai kini jumlah tahanan di Rutan Medaeng mencapai 2.200 lebih.

Dari data itu, bisa jadi Rutan Medaeng saat ini masuk dalam kategori overload jumlah tahanan untuk sebuah rutan ideal.

Penulis: Firman/Slamet – editor: eddybrintiq