jimat_ranmor

Meski berbekal jimat sakti, toh Abdul Malik (tengah) akhirnya tertangkap polisi. Bahkan betis pelaku ranmor inipun terkena pelor petugas.

SURABAYA, Pro Rakyat –

Jimat bukan segalanya. Kalimat ini pas ditujukan untuk pemuda bernama Abdul Malik (28) warga Jalan Pogot, Kenjeran Surabaya ini. Meski mengantongi jimat kekebalan tubuh, toh betisnya masih tertembus pelor anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya.

Peristiwa ranmor ini bermula atas laporan kehilangan sebuah sepeda motor Honda Beat  Nopol L-4584-BK milik Roi Irmawan, pada Selasa (2/8/2016) pukul 04.00 WIB di teras rumahnya.

Langsung saat itu juga, unit Resmob yang berjaga di kawasan Jembatan Suramadu segera menyisir setiap kendaraan yang akan menuju jembatan tersebut. Hasilnya, sejam dari laporan tersebut, polisi mencurigai seorang pengendara sepeda motor Honda Beat dengan ciri-ciri yang dilaporkan Roi.

Rupanya peringatan petugas tak diindahkan si pengendara tadi. Takut bakal melarikan diri, petugas pun melepaskan tembakan ke arah kaki si pengendara. Benar juga, belakangan si pengendara itu adalah Badul Malik, si pencuri ranmor. Pelaku berhasil dilumpuhkan dengan tembakan di betis kirinya.

“Tersangka baru saja mengambil motor di daerah Gubeng bersama satu orang rekannya yang berhasil kabur dari kejaran petugas. Pada saat penangkapan, pelaku berusaha melarikan diri, dengan sangat terpaksa kami menembak betisnya,” terang Satreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga.

Shinto juga menjelaskan bahwa tersangka adalah residivis dalam kasus yang sama pada 2013, dan baru saja menjalani masa hukuman selama 1,6 tahun di Lapas Medaeng Surabaya. Polisi mengamankan dua kendaraan bermotor, masing-masing Honda Beat nopol L-5266-BN sebagai sarana pelaku melakukan aksi kejahatannya, dan Honda Beat dari hasil kejahatan, satu buah kunci T, kunci sepeda motor Honda, serta dua buah kunci pas sebagai barang bukti kejahatan.

Tersangka melakukan aksinya bersama seoran rekannya berinisial FS yang saat ini sedang dalam pengejaran polisi. Dalam aksinya tersangka menggunakan jimat agar aman.

“Jimat ini biar aman pak, biar nggak ketahuan,” aku tersangka.

Disebutkan Shinto, tersangka dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman pidana 7 tahun penjara.

Penulis : Firman – editor: eddybrintiq