IMG_20160729_153430-ok

Ibu kandung Freddi menangis di pusaran makam anaknya.

SURABAYA, Pro Rakyat

Di mata keluarga Freddi Budiman adalah sosok yang baik, berbakti dan mudah bergaul. Hal serupa juga dirasakan kerabat dan tetangga sekitarnya, di kampung Krembangan Baru VII no 6 Surabaya. Mereka tidak menduga jika Freddi terseret lembar hitam narkotika, bahkan menjadi bandar narkoba kelas kakap.

“Freddi orangnya baik, kepada siapa saja suka memberi, jiwa sosialnya tinggi. Bahkan ia bergaul dari tukang becak sampai orang yang terpandang,” aku salah seorang perwakilan keluarga, setelah acara pemakaman.

Ia tidak menyangka bahwa Freddi yang sejak tahun 1990 itu, merantau dari Surabaya adalah seorang bandar narkoba kelas kakap. Bahkan terakhir, ia terbukti atas kepemilikan 1,4 juta pil ekstasi dan mengedarkan melalui jaringan bandar internasional.

Kini Freddi sudah tiada, hanya sebagian besar kenangan indah di mata keluarga dan rekan yang masih terngiang.

” Semasa kecil ia suka bilyar dan jago, dengan peristiwa ini kita ambil hikmahnya, ambil yang baik dari dia, jauhi yang buruk,” imbuh pria berambut gondrong ini.

Beberapa waktu sebelum Freddi dieksekusi, pihak keluarga juga menyatakan bahwa ia sudah tobat. Malah Freddi mengaku sering berpuasa sunnah dan melakukan amalan-amalan baik.

Selain itu, pihak keluarga juga menyampaikan permohonan maaf terhadap semua warga, dan seluruh masyarakat Indonesia atas kekhilafan yang dilakukan oleh Freddi.

Penulis: Firman – Editor: eddybrintiq